Rabu, 21 Agustus 2013

From Majalengka with love -alah...

Hampir genap 1 tahun saya  menjadi penduduk majalengka, jujur saja bukan karena kemauan saya yang terdalam dari lubuk hati yang super suci dan murni ini, tetapi karena untuk mengabdi *maaf dicoret, sepeti kata itu terlalu HALUS untuk saya. 

Sebut saja intershit (hadoh typo) 'intership', sebuah program yang dibuat dengan sedemikian rupa sehingga mewajibkan yang darimana dokter-dokter yang sebagaimana telah disiksa dan ditempa dalam dunia perKoAss-an, survive dari laparnya konsulen akan KoAss berlevel jauh lebih rendah (yaiyalah secara mereka lama pendidikannya 2-3x KoAss), ujian fakultas yang bahkan lebih serem dari UKDI (secara gw remed 3x gitu bo'), dan dinyatakan cukup berkompeten oleh para prosefesor dan guru-guru besar Kedokteran *fiuh tarik nafas dulu.. untuk dipekerjakan secara paksa dengan upah dibawah UMR dan tanpa perlindungan hukum terhadap Malpraktek (udah deh ngaku aja, mayoritas masyarakatkan taunya kesalahan dokter disebutnya malpraktek)

Skip skip skip, saya ga akan membahas tentang Intershitp disini.. ntar aja ada waktunya saya bikin guide How to survive in Internshitp secara finansial, nunggu bukunya di acc penerbit *kali.

Kehidupan di Majalengka dimulai ketika saya, beny (bukan nama sebenarnya), herry (bukan nama sebenarnya juga) menginjakkan kaki kami yang polos ini dikota angin. Berawal dari sebuah kontrakan seadanya, dengan isi sebuah kasur, sebuah lemari, 2 kursi, 2 meja dan 1 karpet. Berbekal duit seadanya dari hasil narik 'becak' sebelum mulai internshitp, kamipun berusaha mengisi rumah naungan kami untuk setahun ke depan. Semuanya berjalan menyenangkan dengan kebahagian2 kecil yang kami ciptakan (sumpah bahagia itu sederhana).

Beberapa bulan diawal, ketika pulang bertugas dari RSUD siang hari dengan suhu yang sangat panas membakar bulu kaki, secara rutin selalu ada yang berinisiatip untuk membuat sirup 'freis' dingin (disuplai oleh seseorang yang tidak boleh disebut namanya), esnya kita beli dari ibu2 penjual minuman di depan rumah (maklum ga ada kulkas). Masa ini merupakann masa keemasan ketika saya dan homemate mampu membeli makan di warteg 2x sehari. Bulan-bulan berikutnya ketika kondisi dompet yang makin menipis, masih tersedia berbagai masakan nusantara mulai dari kari ayam, soto,  empal gentong, kaldu spesial, cakalang dan lain-lain, hanya saja bentuknya berubah menjadi MIE. Yah begitulah Internshit, deritanya tiada akhir.

skip skip nostalgianya.. Hmm intinya banyak yang berubah dari hidup saya, mulai dari pola pikir, pendirian, sampai someone baru. Semua orang berubahkan? Tidak ada keputusan yang salah, yang ada hanya perasaan berat untuk menjalaninya.. dan ketika kamu melangkah untuk suatu perubahan yang lebih baik, meninggalkan luka yang besar dilubuk hatimu, siapkanlah tekad bulat tanpa memandang lagi ke belakang. Karena niat yang kuat dan tulus selalu disertai oleh sesuatu yang besar pada akhirnya. *kali


sekian dulu ye, saatnya ngerjain Borang dan portofolio lagi.. laptop mana laptop

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label