Jumat, 17 Juni 2011

For Great Stuff Comes Great Sacrifice

Saya PELIT, semua anak angkatan saya tau itu. Sebenarnya sih bukan pelit(menurut saya), tapi HEMAT! yah walaupun banyak yang bilang batasan antara pelit dan hemat itu tipis, setipis sehelai rambut...

Awal saya hemat ini dimulai sejak kecil, menabung-menabung dan menabung, tetapi entah mengapa dari pikiran saya tiba-tiba berubah jadi money oriented. jadilah saya 'tukang' dagang sejak SD. yah simple saja, jualan alat tulis misalnya. lucu loh ketika nginget dulu saya jualan, alat tulis itu saya masukkan ke dalam kresek, kemudian yang beli boleh nyicil.. hehe
Ga hanya jualan ketika sd, pas smp saya bikin majalah tentang game yang disadur dari inet(ketika itu inet sangat2 jarang dikota saya), kemudian di foto kopi dan dijual keteman2 saya, sistemnya ga rutin terbit, kalo ada pesanan saja, itupun kontennya bisa dipesan oleh si pembeli. Hebatkan ;p

Dari kecil kebiasaan hemat ini terus berkembang. Hasil menabung dan jerih payah saya, terkadang saya nikmati dengan membeli barang2 yang sudah lama saya impikan (walaupun tidak jarang ketika uang saya terkumpul setelah berbulan-bulan, malah tidak jadi saya belikan karena sayang duitnya).

Semakin dewasa, pikiran hemat ini terus berkembang, saya ingin masuk spesialis, mandiri secara financial, dan punya rumah dari hasil jerih payah saya sendiri sebelum menikah. Hoo, sebuah tujuan yang besar untuk mahasiswa kedokteran macam saya. Sulit, ngebangun usaha itu sulit(maaf saya ga akan masuk MLM atau ntah apapun itu namanya). Sudah banyak usaha yg saya jalanin, dan ga semuanya berakhir dengan mulus. Terdapat usaha saya yang merugi besar (plis jangan Tanya jumlahnya), serta potensial loss yang hmm besar juga. Ahaha

Hingga pada satu titik kejatuhan saya, ditambah dengan nasihat orang tua, pandangan saya sedikit berubah. Sudah tidak freak hemat lagi, sudah mulai bisa membelanjakan uang sendiri. Sudah mulai tidak stress lagi dengan usaha2 saya.

Akhir-akhir ini saya sering membeli barang-barang elektronik, yah barang2 yang dulunya saya impikan, sampai2 saya cuma bisa ngiler ngeliatnya di etalase. Hoo,, bisa dibilang mimpi menjadi kenyataanlah (lebay –red). Tetapi entah mengapa ya, orang2 banyak yang mengira boroslah, banyak duitlah, ngamburin uang orang tua lah, contoh komen salah satu teman yang dulu pernah satu kontrakan saya, sebut saja namanya herry (bukan nama sebenarnya ;p) "Mak, barang baru terus kau Val, ga abis2 apa duit bapak kau?" (smoga yang beranggapan demikian baca apa yang saya tulis diatas.. aamiin). mereka tidak tau pengorbanan dan apa yang telah saya lakukan. Tidak ada salahnya toh skali2 menikmati dunia? Bener juga kata Soichiro Honda “Orang-orang hanya melingat 1% dari kesuksesan saya, tetapi mereka tidak melihat 99% dari kegagalan saya”.

Yah gampangnya begini sajalah, ‘Toh duit-duit gw, ngapain lo urusin?? Toh gw juga ga Cuma bisa minta ke orang tua’ (“Mi Pi beliin -red) plis des’. (walaupun ada sebagian yang saya kumpulkan dari uang jajan saya yang secara tidak langsung dari orang tua juga)

Untuk sekarang sih saya masih mau menikmati jerih payah saya selama ini. kalau sudah di satu titik, baru saya mengumpulkan lagi dengan filosofi HEMAT saya, baru deh saya nikmati di umur dewasa saya kelak.. Aamiin

When i dream...

Marsha...






Fortuner


Selasa, 14 Juni 2011

Semangat Noval ^^

Sebelum saya memulai bercerita, mari kita menyimak sedikit cerita singkat di bawah ini..


"Suatu hari ketika saya bersilaturahmi ke rumah tante saya, seperti biasanya saya bermain dengan adik sepupu saya. ketika saya dan adik sepupu saya ke halaman rumah, adik sepupu saya terjatuh karena lantai keramiknya yang licin, secara spontan tante saya (ibu sepupu saya) datang menghampiri dan langsung memukul sepupu saya sambil marah khas ibu-ibu."

Coba dibaca dengan seksama, adakah yang janggal dengan cerita diatas?



Kembali ke cerita saya, minggu lalu saya kecelakaan. Mobil saya menabrak truk yang mengakibatkan mobil oleng dan menyenggol mobil lainnya (fortuner -red). Entah mengapa kejadian itu bertepatan dengan hari dimana saya dan teman-teman saya harus mencari pasien untuk ujian di jatinangor, dan hal itu menyebabkan saya tertekan. Bukan karena mobil saya dan fortuner, tetapi karena teman-teman saya terluka (alhamdulillah tidak parah, sudah di rontgen kok). Saya akui banyak sedikitnya kesalahan itu terletak pada saya, dikarenakan saya mengemudi lumayan ngebut.


Selidik punya selidik, ketika berbincang-bincang, ternyata ketika saya hendak mengambil kanan untuk menyelip, mobil disebelah kanan saya langsung menginjak gas kencang yang mengakibatkan perhitungan saya yang pas-pasan menjadi kacau, dan mengakibatkan mobil saya menabrak truk di depan(truknya juga sempat ngerem -red).

Sketsa ala kadarnya (A=Truk, B=Avanza, C=Mobil Saya, D=Fortuner)

Shock bercampur rasa bersalah menyebabkan tekanan batin hingga beberapa hari, dan alhamdulillah 2 hari setelah kejadian saya dihadapkan dengan ujian final yang merupakan ujian lisan. Dengan persiapan apa adanya (dikarenakan harus mengurus blablabla-nya), jangankan untuk belajar, flipchart saja baru sempat saya kerjakan pagi hari pas hari h.

Ada yang menarik ketika saya sedang menunggu dikoridor untuk masuk ke dalam ruangan ujian, salah satu dosen saya datang dan menghampiri saya, terjadilah percakapan yang cukup membuat saya makin tertekan :

dosen : "kemarin kecelakaan ya? Kok bisa?"

saya : "iya bu. Ga tau..."

dosen : "kok bisa ga tau? Emang kecepatan berapa?"

saya : "hmmm, ga tau bu kecepatan berapa.."

dosen : "masak bisa ga tau kecepatan berapa? Saya kalau mau nyalip kendaraan orang pasti melihat speedometer dulu. Pasti kamu ngebut ya?"

saya : "nggak bu.." (denial -red)

dosen : "nggak tapi 140"

saya : terdiam

dosen : langsung pergi untuk menguji kembali

Apa yang saya lakukan dalam menjawab pertanyaan diatas merupakan salah satu defense mechanism berupa denial atau menyangkal. Dalam hal ini menurut saya normal melakukan denial, dikarenakan ketika itu saya benar-benar sedang merasa tertekan(bersalah -red) dan diperparah dengan disudutkan oleh dosen saya, untuk itu saya berusaha mencegah depresi yang makin parah dengan melakukan denail. Hoo, dari apa yang saya pelajari, ketika defense mekanisme seseorang gagal, akibatnya akan muncul masalah kejiwaan. Tetapi inti dari cerita diatas bukanlah tekanan batin saya, tetapi lebih kepada kenapa harus menjudge orang yang sudah merasa bersalah dan telah banyak menanggung akibat dari perbuatannya?

Heii ayolah, saya bukan seorang idiot yang tidak mengerti tentang kesalah saya, ga usah diberitau juga saya mengerti klo saya salah, bahkan sampai benar2 menyalahkan diri sendiri lagi. Memang tidak cukup ya beban mental, fisik, dan finansial yang harus saya tanggung?

Kalau memang mau saling menyalahkan, bukannya mereka juga bersalah ya kenapa menempatkan mahasiswanya ditempat yang jauh? Kenapa mereka tidak menyediakan kendaraan yang aman untuk kami? Kenapa temen2 saya nebeng saya? Kenapa tidak ada yang mengingatkan kalau saya ngebut? Kenapa saya ngebut? Kenapa mobil yang dikanan tidak mengasih saya jalan? Dan masih banyak yang bisa disalahkan atas kejadiaan ini.

Tapi kembali kesatu poin yang menurut saya cukup bijaksana, kenapa harus mencari-cari kesalahan? Bukannya jauh lebih bijaksana jika kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian?

Label