Minggu, 09 Januari 2011

dari hal mistis, IGD, sampai dokter n pasien ideal



Kali ini saya mengangkat tema yang fenomenal, mistik, dan sangat menakutkan dikalangan dokter dan dokter muda yang sedang menjalani pendidikan di Rumah Sakit, fenomena ini dikenal sebagai SI PEMBAWA. Percaya atau tidak, disetiap tubuh seseorang bernaung kekuatan mistis yang tidak disadari, kekuatan ini dapat melindungi orang tersebut dari bencana, atau bahkan memiliki dampak yang sangat dasyat bagi lingkungan sekitarnya. Gampang sekali untuk mengetahui apakah orang tersebut memiliki kekuatan supranatural tersebut atau tidak, hal ini terpancar jelas dari auranya yang bahkan dari jarak jauh pun sudah terasa sangat mencekam(kuburan kali ah). <- cukup intro super lebaynya...

SI PEMBAWA atau dalam penjabarannya SI PEMBAWA PASIEN, memiliki aura yang dapat mendatangkan pasien, dan jujur saja hal ini bisa berarti keberuntungan (bagi yang mau blajar) atau malapetaka (bagi yang sudah terlalu lelah dalam arti sebenarnya). Entah kebetulan atau tidak, kehadiran orang2 yang ‘terpilih’ ini langsung membawa perubahan yang drastis. Misal, IGD yang awalnya adem ayem, sepi, bahkan diselingi dengan dokter dan dokter muda (koass, -red) yang sedang bermain kartu (lebay), langsung kebanjiran pasien dengan bertubi-tubi setelah pergantia shift jaga yang kebetulan si pembawa yg menggantikannya.

Ngomong2 masalah si PEMBAWA, ada juga level si PEMBAWA yang lebih tinggi(PEMBAWA level II) atau disebut juga dengan si pembawa kematian. Nah saya pernah tuh jaga b2 dengan si PEMBAWA level II, sebut saja namanya bunga (nama sebenarnya bukan ya? –red). Jadi begini critanya, saya lagi jaga IGD dibagian saraf, si bunga tuh super ya auranya... bayangin aja, ketika saya cabut(misal sholat), pasien langsung nongol tuh, yah secara saya juga aura menolak (walaupun blom dbuktikan). Nah jaga dengan si bunga tuh bener2 hari terburuk saya jaga di IGD. Bayangin, dari total 5 pasien saraf di IGD (saraf biasanya emang sepi), 3 pasien meninggal :’(! Secara tidak langsung kill rate gw 60% (kaya di PB aja). Di malam itu, saya untuk pertama kalinya ketemu pasien apnea(ga bisa nafas), saya untuk pertama kalinya melakukan CPR, dan juga untuk pertama kalinya melakukan pernafasan buatan hanya untuk formalitas saja (soalnya percuma sbnarnya, udah lewat juga, tapi ga enak dihadapan keluarga)

FYI aja sih, memang IGD neuro tuh seringan ktm pasien yang dah end-stage.

Hmmm, kembali ke IGD. Banyak banget pengalaman dan skill yang di dapat dari ruangan ini. Trkadang capek sih, bahkan lo ga tdr klo pasien dah bejubel, jangankan untuk tidur, untuk duduk saja ga ada tempat. Capek tingkat tinggi ini pun diperparah dengan jadwal state koass lo yang ga mengenal toleransi, jadi misalkan hari-hari saya dimulai dari jam 7 pagi sampai jam 3-4 sore. Nah klo kebetulan saya jaga, jadwal jaga tuh dimulai pukul 4 sore dan berakhir pukul 6 pagi (kadang lebih cepat), nah setelah itu saya harus kembali beraktivitas pada pukul 7 paginya. Huaa benar2 hari yang melelahkan, makanya saya lebih suka ambil jadwal yang keesokan harinya libur, misalnya weekend, jadi punya waktu seharian untuk post-jaga sindrome.

ini efek si PENOLAK pasien! keren!! kapan gw jaga brg dia T_T

beginilah aksi awal kalau si PEMBAWA mulai muncul

para dokter-dokte muda.. saya yang mana hayo??

EFEK dari PEMBAWA

Pemandangan biasa ditemukan di IGD mulai jam 4an (itu juga kalau sepi)


kalau dipikir2 berat juga ya? mana dah jaga, ga dpt duit lagi (boro2, malah bayar uang kuliah)... ya salah sendiri mau jadi dokter, toh memang seharusnya dokter pekerjaan sosialkan? So, buat kamu yang brpikir semua dokter materialistis, coba pikir lagi. buat kamu yang memang sedang menjalani profesi ini atau sedang dalam tahap menuju kesana, coba luruskan kembali niat menjadi dokter. Ingat dahulu dokter itu dianggap orang tinggi, titisan dewa, atau apalah, semua itu dikarenakan mereka mengobati dan menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. yah memang sih skarang kehidupan yang serba materialistis, tapi jangan nafsu2 amatlah cari duit. ga usah sok idealis dengan jadi dokter yang nge-gratisin semua pasien trus kluarga lo jadinya makan batu, dan jangan terlalu ngejar kreditan ferrari sampe2 grasak-grusuk sana-sini dengan tarif selangit, jadi dokter ideal ajalah, pasien senang kluarga juga senang. ga usah muluk-muluk amat jadi dokter, cukup rumah 1 di Pondok Indah, mobil satu ferrari, trus istri 2, cukupkan?? (loh?? just kidding mamen)

jadi pasien juga jangan terlalu munafiklah, klo berobat jangan sampe nyamar jadi orang miskin sedunia. masak ga mau ngeluarin duit utk operasi usus buntu, padahal klo makan2 di restoran ampe ratusan ribu bahkan jutaan. jangan ngurus2 surat keterangan miskinlah klo aslinya mampu, nanti bnran miskin baru tau rasa. <- solusinya : pakai asuransi kesehatan mamen, dokter senang, anda juga senang.

nb :

1. jangan terlalu srius ya baca postingan gw

2. foto2 itu diambil dari vivanews sebagian, dan dari mbah google

3. keadaan difoto murni pemandangan sehari-hari di IGD RS (kecuali yang sepi ya), dan bukan merupakan efek dari si PEMBAWA

4. si PEMBAWA n si PENOLAK hanya mitos belaka, yah walaupun kadang2 suka tepat, tapi gw yakin cuma kebetulan aja kok

3 komentar:

Label