Sebelum saya memulai bercerita, mari kita menyimak sedikit cerita singkat di bawah ini..
"Suatu hari ketika saya bersilaturahmi ke rumah tante saya, seperti biasanya saya bermain dengan adik sepupu saya. ketika saya dan adik sepupu saya ke halaman rumah, adik sepupu saya terjatuh karena lantai keramiknya yang licin, secara spontan tante saya (ibu sepupu saya) datang menghampiri dan langsung memukul sepupu saya sambil marah khas ibu-ibu."
Coba dibaca dengan seksama, adakah yang janggal dengan cerita diatas?
Kembali ke cerita saya, minggu lalu saya kecelakaan. Mobil saya menabrak truk yang mengakibatkan mobil oleng dan menyenggol mobil lainnya (fortuner -red). Entah mengapa kejadian itu bertepatan dengan hari dimana saya dan teman-teman saya harus mencari pasien untuk ujian di jatinangor, dan hal itu menyebabkan saya tertekan. Bukan karena mobil saya dan fortuner, tetapi karena teman-teman saya terluka (alhamdulillah tidak parah, sudah di rontgen kok). Saya akui banyak sedikitnya kesalahan itu terletak pada saya, dikarenakan saya mengemudi lumayan ngebut.
Selidik punya selidik, ketika berbincang-bincang, ternyata ketika saya hendak mengambil kanan untuk menyelip, mobil disebelah kanan saya langsung menginjak gas kencang yang mengakibatkan perhitungan saya yang pas-pasan menjadi kacau, dan mengakibatkan mobil saya menabrak truk di depan(truknya juga sempat ngerem -red).

Sketsa ala kadarnya (A=Truk, B=Avanza, C=Mobil Saya, D=Fortuner)
Shock bercampur rasa bersalah menyebabkan tekanan batin hingga beberapa hari, dan alhamdulillah 2 hari setelah kejadian saya dihadapkan dengan ujian final yang merupakan ujian lisan. Dengan persiapan apa adanya (dikarenakan harus mengurus blablabla-nya), jangankan untuk belajar, flipchart saja baru sempat saya kerjakan pagi hari pas hari h.
Ada yang menarik ketika saya sedang menunggu dikoridor untuk masuk ke dalam ruangan ujian, salah satu dosen saya datang dan menghampiri saya, terjadilah percakapan yang cukup membuat saya makin tertekan :
dosen : "kemarin kecelakaan ya? Kok bisa?"
saya : "iya bu. Ga tau..."
dosen : "kok bisa ga tau? Emang kecepatan berapa?"
saya : "hmmm, ga tau bu kecepatan berapa.."
dosen : "masak bisa ga tau kecepatan berapa? Saya kalau mau nyalip kendaraan orang pasti melihat speedometer dulu. Pasti kamu ngebut ya?"
saya : "nggak bu.." (denial -red)
dosen : "nggak tapi 140"
saya : terdiam
dosen : langsung pergi untuk menguji kembali
Apa yang saya lakukan dalam menjawab pertanyaan diatas merupakan salah satu defense mechanism berupa denial atau menyangkal. Dalam hal ini menurut saya normal melakukan denial, dikarenakan ketika itu saya benar-benar sedang merasa tertekan(bersalah -red) dan diperparah dengan disudutkan oleh dosen saya, untuk itu saya berusaha mencegah depresi yang makin parah dengan melakukan denail. Hoo, dari apa yang saya pelajari, ketika defense mekanisme seseorang gagal, akibatnya akan muncul masalah kejiwaan. Tetapi inti dari cerita diatas bukanlah tekanan batin saya, tetapi lebih kepada kenapa harus menjudge orang yang sudah merasa bersalah dan telah banyak menanggung akibat dari perbuatannya?
Heii ayolah, saya bukan seorang idiot yang tidak mengerti tentang kesalah saya, ga usah diberitau juga saya mengerti klo saya salah, bahkan sampai benar2 menyalahkan diri sendiri lagi. Memang tidak cukup ya beban mental, fisik, dan finansial yang harus saya tanggung?
Kalau memang mau saling menyalahkan, bukannya mereka juga bersalah ya kenapa menempatkan mahasiswanya ditempat yang jauh? Kenapa mereka tidak menyediakan kendaraan yang aman untuk kami? Kenapa temen2 saya nebeng saya? Kenapa tidak ada yang mengingatkan kalau saya ngebut? Kenapa saya ngebut? Kenapa mobil yang dikanan tidak mengasih saya jalan? Dan masih banyak yang bisa disalahkan atas kejadiaan ini.
Tapi kembali kesatu poin yang menurut saya cukup bijaksana, kenapa harus mencari-cari kesalahan? Bukannya jauh lebih bijaksana jika kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian?