Sabtu, 24 Agustus 2013

Panduan Dasar Survive Internship Secara Finansial

Bagi yang mau menjalani program dokter Internship dengan BHD (Bantuan Hidup Dasar -red)       Rp 1.200.000. Mungkin beberapa tips ini berguna untuk lo, terutama bagi yang tidak disuplai orang tua lagi.

1. Sebelum berangkat terdapat waktu spasing 1-2 bulan, usahakan anda mencari 'objekan' sebanyak mungkin untuk mempersiapkan dana cadangan. lo ga bakal dpt BHD dimuka kecuali uang transport seharga tiket pergi ketempat wahana internship lo. Setelahnya, uang BHD akan turun 3 bulan setelah iship (kadang klo hoki bisa dpt dibulan pertama).
2. Survey tempat untuk akomodasi lo selama setahun iship, perhatikan juga letak puskesmasnya. kalau memang jauh sebaiknya cari kosan/kontrakan perbulan, sehingga bisa pindah tempat ke dekat puskesmas kalau pindah stase (menghemat ongkos transport)
3. Sebaiknya pilihlah kontrakan untuk 3-6 orang tergantung klompok, bisa lebih menghemat pengeluaran rutin mulai dari aqua (percalah lebih baik beli air kemasan daripada masak sendiri atau air refill, sakit lebih keluar duit banyak bro. Lebih hemat lagi, patungan beli Pure-it, jauh lebih hemat untuk setahun), listrik, makan dan bibi' cuci (bagi yang ga nyuci sendiri)
4. Selalu sedia indomie selama setahun, lo ga tau betapa berharganya SOBAT baru ini akan berguna untuk lo.
5. Biasanya beberapa rumah sakit menyediakan uang jaga untuk shift igd, manfaatin itu apalagi klo ada tmn kamu yg males jaga atau terlalu tajir
6. Jangan lupa cari info sebanyaknya tentang 'objek'an disekitar wahana iship kami. Agak jauh juga gpplah, yang penting nutupim uang transport dan worth it
7. Terakhir selalu jaga kesehatan, inget klo sakit mahal loh bro

Sekian dulu tips singkat super ngasal ini, sampai ketemu di postingan berikutnya tentang simulasi pengeluaran super hemat ala gw(semoga ada niat nulis lagi)

poin of nowhere

Di poin ini gw ga tau deh mau curhat sama siapa lagi, kayaknha udah capek aja. Serba ga jelas semuanya

Yah awalnya gw emang ngerencanain untuk ptt, nyari duit yang banyak, buka praktek disana, menikmati hidup. Dan setelah itu, mermodalkan ptt, ngedaftar pendidikan spesialis di unpad dengan jerih payah gw sendiri. Jujur gw tertarik dengan bedah, kalau dibilang passion mungkin emang ini passion gw. Nurun dari bokap kali ya

Cuma ntah bagaimana planning gw berubah, kepikiran untuk ambil spfk agar punya 'me time' lebih banyak. Ya salah satu alasannya karena di jakarta sih. Kayaknya terlalu terbuai aja sampe lupa sama planning awal. 

Bener kata bokap, masa bujangan itu harusnya di nikmati. Ini saat dimana lo ngambil keputusan sesuai dengan keinginan lo, tanpa ada pertimbangan dan intervensi orang lain. Tanpa beban yang harus lo pikul, bener2 go with the flow.

Tapi sepertinya udah terlambat, gw udah terlanjur ngelangkah dimana gw ga bisa ngikutin keinginan sendiri. Semua keputusan harus dipertimbangin mateng2 biar bisa sesuai dengan yang lainnya.. ya sudahlah ya, seperti kata prof tri "point of no return".. nite all

Rabu, 21 Agustus 2013

From Majalengka with love -alah...

Hampir genap 1 tahun saya  menjadi penduduk majalengka, jujur saja bukan karena kemauan saya yang terdalam dari lubuk hati yang super suci dan murni ini, tetapi karena untuk mengabdi *maaf dicoret, sepeti kata itu terlalu HALUS untuk saya. 

Sebut saja intershit (hadoh typo) 'intership', sebuah program yang dibuat dengan sedemikian rupa sehingga mewajibkan yang darimana dokter-dokter yang sebagaimana telah disiksa dan ditempa dalam dunia perKoAss-an, survive dari laparnya konsulen akan KoAss berlevel jauh lebih rendah (yaiyalah secara mereka lama pendidikannya 2-3x KoAss), ujian fakultas yang bahkan lebih serem dari UKDI (secara gw remed 3x gitu bo'), dan dinyatakan cukup berkompeten oleh para prosefesor dan guru-guru besar Kedokteran *fiuh tarik nafas dulu.. untuk dipekerjakan secara paksa dengan upah dibawah UMR dan tanpa perlindungan hukum terhadap Malpraktek (udah deh ngaku aja, mayoritas masyarakatkan taunya kesalahan dokter disebutnya malpraktek)

Skip skip skip, saya ga akan membahas tentang Intershitp disini.. ntar aja ada waktunya saya bikin guide How to survive in Internshitp secara finansial, nunggu bukunya di acc penerbit *kali.

Kehidupan di Majalengka dimulai ketika saya, beny (bukan nama sebenarnya), herry (bukan nama sebenarnya juga) menginjakkan kaki kami yang polos ini dikota angin. Berawal dari sebuah kontrakan seadanya, dengan isi sebuah kasur, sebuah lemari, 2 kursi, 2 meja dan 1 karpet. Berbekal duit seadanya dari hasil narik 'becak' sebelum mulai internshitp, kamipun berusaha mengisi rumah naungan kami untuk setahun ke depan. Semuanya berjalan menyenangkan dengan kebahagian2 kecil yang kami ciptakan (sumpah bahagia itu sederhana).

Beberapa bulan diawal, ketika pulang bertugas dari RSUD siang hari dengan suhu yang sangat panas membakar bulu kaki, secara rutin selalu ada yang berinisiatip untuk membuat sirup 'freis' dingin (disuplai oleh seseorang yang tidak boleh disebut namanya), esnya kita beli dari ibu2 penjual minuman di depan rumah (maklum ga ada kulkas). Masa ini merupakann masa keemasan ketika saya dan homemate mampu membeli makan di warteg 2x sehari. Bulan-bulan berikutnya ketika kondisi dompet yang makin menipis, masih tersedia berbagai masakan nusantara mulai dari kari ayam, soto,  empal gentong, kaldu spesial, cakalang dan lain-lain, hanya saja bentuknya berubah menjadi MIE. Yah begitulah Internshit, deritanya tiada akhir.

skip skip nostalgianya.. Hmm intinya banyak yang berubah dari hidup saya, mulai dari pola pikir, pendirian, sampai someone baru. Semua orang berubahkan? Tidak ada keputusan yang salah, yang ada hanya perasaan berat untuk menjalaninya.. dan ketika kamu melangkah untuk suatu perubahan yang lebih baik, meninggalkan luka yang besar dilubuk hatimu, siapkanlah tekad bulat tanpa memandang lagi ke belakang. Karena niat yang kuat dan tulus selalu disertai oleh sesuatu yang besar pada akhirnya. *kali


sekian dulu ye, saatnya ngerjain Borang dan portofolio lagi.. laptop mana laptop

Jumat, 17 Juni 2011

For Great Stuff Comes Great Sacrifice

Saya PELIT, semua anak angkatan saya tau itu. Sebenarnya sih bukan pelit(menurut saya), tapi HEMAT! yah walaupun banyak yang bilang batasan antara pelit dan hemat itu tipis, setipis sehelai rambut...

Awal saya hemat ini dimulai sejak kecil, menabung-menabung dan menabung, tetapi entah mengapa dari pikiran saya tiba-tiba berubah jadi money oriented. jadilah saya 'tukang' dagang sejak SD. yah simple saja, jualan alat tulis misalnya. lucu loh ketika nginget dulu saya jualan, alat tulis itu saya masukkan ke dalam kresek, kemudian yang beli boleh nyicil.. hehe
Ga hanya jualan ketika sd, pas smp saya bikin majalah tentang game yang disadur dari inet(ketika itu inet sangat2 jarang dikota saya), kemudian di foto kopi dan dijual keteman2 saya, sistemnya ga rutin terbit, kalo ada pesanan saja, itupun kontennya bisa dipesan oleh si pembeli. Hebatkan ;p

Dari kecil kebiasaan hemat ini terus berkembang. Hasil menabung dan jerih payah saya, terkadang saya nikmati dengan membeli barang2 yang sudah lama saya impikan (walaupun tidak jarang ketika uang saya terkumpul setelah berbulan-bulan, malah tidak jadi saya belikan karena sayang duitnya).

Semakin dewasa, pikiran hemat ini terus berkembang, saya ingin masuk spesialis, mandiri secara financial, dan punya rumah dari hasil jerih payah saya sendiri sebelum menikah. Hoo, sebuah tujuan yang besar untuk mahasiswa kedokteran macam saya. Sulit, ngebangun usaha itu sulit(maaf saya ga akan masuk MLM atau ntah apapun itu namanya). Sudah banyak usaha yg saya jalanin, dan ga semuanya berakhir dengan mulus. Terdapat usaha saya yang merugi besar (plis jangan Tanya jumlahnya), serta potensial loss yang hmm besar juga. Ahaha

Hingga pada satu titik kejatuhan saya, ditambah dengan nasihat orang tua, pandangan saya sedikit berubah. Sudah tidak freak hemat lagi, sudah mulai bisa membelanjakan uang sendiri. Sudah mulai tidak stress lagi dengan usaha2 saya.

Akhir-akhir ini saya sering membeli barang-barang elektronik, yah barang2 yang dulunya saya impikan, sampai2 saya cuma bisa ngiler ngeliatnya di etalase. Hoo,, bisa dibilang mimpi menjadi kenyataanlah (lebay –red). Tetapi entah mengapa ya, orang2 banyak yang mengira boroslah, banyak duitlah, ngamburin uang orang tua lah, contoh komen salah satu teman yang dulu pernah satu kontrakan saya, sebut saja namanya herry (bukan nama sebenarnya ;p) "Mak, barang baru terus kau Val, ga abis2 apa duit bapak kau?" (smoga yang beranggapan demikian baca apa yang saya tulis diatas.. aamiin). mereka tidak tau pengorbanan dan apa yang telah saya lakukan. Tidak ada salahnya toh skali2 menikmati dunia? Bener juga kata Soichiro Honda “Orang-orang hanya melingat 1% dari kesuksesan saya, tetapi mereka tidak melihat 99% dari kegagalan saya”.

Yah gampangnya begini sajalah, ‘Toh duit-duit gw, ngapain lo urusin?? Toh gw juga ga Cuma bisa minta ke orang tua’ (“Mi Pi beliin -red) plis des’. (walaupun ada sebagian yang saya kumpulkan dari uang jajan saya yang secara tidak langsung dari orang tua juga)

Untuk sekarang sih saya masih mau menikmati jerih payah saya selama ini. kalau sudah di satu titik, baru saya mengumpulkan lagi dengan filosofi HEMAT saya, baru deh saya nikmati di umur dewasa saya kelak.. Aamiin

When i dream...

Marsha...






Fortuner


Selasa, 14 Juni 2011

Semangat Noval ^^

Sebelum saya memulai bercerita, mari kita menyimak sedikit cerita singkat di bawah ini..


"Suatu hari ketika saya bersilaturahmi ke rumah tante saya, seperti biasanya saya bermain dengan adik sepupu saya. ketika saya dan adik sepupu saya ke halaman rumah, adik sepupu saya terjatuh karena lantai keramiknya yang licin, secara spontan tante saya (ibu sepupu saya) datang menghampiri dan langsung memukul sepupu saya sambil marah khas ibu-ibu."

Coba dibaca dengan seksama, adakah yang janggal dengan cerita diatas?



Kembali ke cerita saya, minggu lalu saya kecelakaan. Mobil saya menabrak truk yang mengakibatkan mobil oleng dan menyenggol mobil lainnya (fortuner -red). Entah mengapa kejadian itu bertepatan dengan hari dimana saya dan teman-teman saya harus mencari pasien untuk ujian di jatinangor, dan hal itu menyebabkan saya tertekan. Bukan karena mobil saya dan fortuner, tetapi karena teman-teman saya terluka (alhamdulillah tidak parah, sudah di rontgen kok). Saya akui banyak sedikitnya kesalahan itu terletak pada saya, dikarenakan saya mengemudi lumayan ngebut.


Selidik punya selidik, ketika berbincang-bincang, ternyata ketika saya hendak mengambil kanan untuk menyelip, mobil disebelah kanan saya langsung menginjak gas kencang yang mengakibatkan perhitungan saya yang pas-pasan menjadi kacau, dan mengakibatkan mobil saya menabrak truk di depan(truknya juga sempat ngerem -red).

Sketsa ala kadarnya (A=Truk, B=Avanza, C=Mobil Saya, D=Fortuner)

Shock bercampur rasa bersalah menyebabkan tekanan batin hingga beberapa hari, dan alhamdulillah 2 hari setelah kejadian saya dihadapkan dengan ujian final yang merupakan ujian lisan. Dengan persiapan apa adanya (dikarenakan harus mengurus blablabla-nya), jangankan untuk belajar, flipchart saja baru sempat saya kerjakan pagi hari pas hari h.

Ada yang menarik ketika saya sedang menunggu dikoridor untuk masuk ke dalam ruangan ujian, salah satu dosen saya datang dan menghampiri saya, terjadilah percakapan yang cukup membuat saya makin tertekan :

dosen : "kemarin kecelakaan ya? Kok bisa?"

saya : "iya bu. Ga tau..."

dosen : "kok bisa ga tau? Emang kecepatan berapa?"

saya : "hmmm, ga tau bu kecepatan berapa.."

dosen : "masak bisa ga tau kecepatan berapa? Saya kalau mau nyalip kendaraan orang pasti melihat speedometer dulu. Pasti kamu ngebut ya?"

saya : "nggak bu.." (denial -red)

dosen : "nggak tapi 140"

saya : terdiam

dosen : langsung pergi untuk menguji kembali

Apa yang saya lakukan dalam menjawab pertanyaan diatas merupakan salah satu defense mechanism berupa denial atau menyangkal. Dalam hal ini menurut saya normal melakukan denial, dikarenakan ketika itu saya benar-benar sedang merasa tertekan(bersalah -red) dan diperparah dengan disudutkan oleh dosen saya, untuk itu saya berusaha mencegah depresi yang makin parah dengan melakukan denail. Hoo, dari apa yang saya pelajari, ketika defense mekanisme seseorang gagal, akibatnya akan muncul masalah kejiwaan. Tetapi inti dari cerita diatas bukanlah tekanan batin saya, tetapi lebih kepada kenapa harus menjudge orang yang sudah merasa bersalah dan telah banyak menanggung akibat dari perbuatannya?

Heii ayolah, saya bukan seorang idiot yang tidak mengerti tentang kesalah saya, ga usah diberitau juga saya mengerti klo saya salah, bahkan sampai benar2 menyalahkan diri sendiri lagi. Memang tidak cukup ya beban mental, fisik, dan finansial yang harus saya tanggung?

Kalau memang mau saling menyalahkan, bukannya mereka juga bersalah ya kenapa menempatkan mahasiswanya ditempat yang jauh? Kenapa mereka tidak menyediakan kendaraan yang aman untuk kami? Kenapa temen2 saya nebeng saya? Kenapa tidak ada yang mengingatkan kalau saya ngebut? Kenapa saya ngebut? Kenapa mobil yang dikanan tidak mengasih saya jalan? Dan masih banyak yang bisa disalahkan atas kejadiaan ini.

Tapi kembali kesatu poin yang menurut saya cukup bijaksana, kenapa harus mencari-cari kesalahan? Bukannya jauh lebih bijaksana jika kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian?

Jumat, 25 Februari 2011

tribute to someone

seseorang yang menatap kelamnya malam dengan syahdu
mencoba mengaitkan kegelapan dengan kelabu
bukannya tak sama, tapi terkadang berbeda

sudut awalan khayalmu berbeda denganku
itu katamu
sirat yang tersurat itu mencekam

aku coba untuk menelaah kembali
benarkah?

yah, memang dulu menurutku malam itu gelap
dulu, dulu sekali ketika di sudut ini tak ada sebuah lampu remang yang menemaniku
ketika aku terlupa bahwa gelap menjadikan siklus hormonalku terus tergulir di dalam darahku
dan harapanku tentang masa depan hanya terpaku pada ruang ini

aku berkata salah, tapi salah itu hanya persepsi yang berbeda antaranya
dan ketika kau menyulut salahmu dengan amarah
serta malam semakin membutakanmu dengan cengkraman
dan orang-orang tetap memadamkan lilin-lilin dengan teriakan kelamnya
aku berusaha sampai titik danarku untuk tetap membelamu
walaupun aku tahu bahwa malam itu tidak kelabu

Label